#1 Best Seller

Buy me Coffee - Taukah Kamu, Kopi Ditemukan Oleh Kambing lho

Legenda penemuan kopi oleh kambing ini berasal dari Ethiopia, sekitar abad ke-9. Seorang gembala bernama Kaldi memperhatikan bahwa kambing-kambingnya menjadi sangat aktif setelah memakan buah merah dari pohon tertentu.

Terinspirasi oleh tingkah laku kambingnya, Kaldi mencoba biji kopi itu sendiri dan merasakan efek energinya. Dia kemudian membawa penemuan ini kepada seorang biarawan di biara terdekat, yang mencoba mengolah biji kopi tersebut menjadi minuman. Sang biarawan menemukan bahwa minuman ini membantunya tetap terjaga selama doa malam.

Kisah ini menyebar dan akhirnya biji kopi mulai digunakan oleh biara-biara di seluruh wilayah untuk membantu para biarawan tetap terjaga selama doa malam yang panjang. Dari Ethiopia, kopi kemudian menyebar ke Timur Tengah dan menjadi minuman populer di kalangan sufi untuk tetap terjaga saat ibadah malam.


IDR 22.000,00
Buy me Coffee - Taukah Kamu, Kopi Ditemukan Oleh Kambing lho

Halo. Nama saya Kotaro

Saya seorang software engineer. Freelancer, lebih tepatnya. Bekerja dari mana saja, kapan saja, selama ada koneksi internet dan tenggat waktu yang harus dipenuhi. Kedengarannya romantis—dan memang kadang begitu. Tapi lebih sering, ini tentang duduk berjam-jam di depan laptop, menulis kode, memperbaiki bug, dan menjawab pesan-pesan dari klien yang selalu merasa deadline mereka paling mendesak.

Kafe adalah kantor kedua saya. Mungkin bahkan kantor pertama, kalau dihitung dari frekuensi kunjungan. Rumah terlalu sunyi, coworking space terlalu ramai, tapi kafe—entah bagaimana—selalu pas. Ada keramaian yang tidak mengganggu. Ada orang-orang yang sibuk dengan urusan masing-masing. Dan yang paling penting, ada kopi.

Saya suka kopi

Tapi kalau harus jujur, fokus saya bukan pada tasting notes atau aroma atau semua terminologi yang sering dipakai pecinta kopi sejati. Fokus saya lebih sederhana: kafein. Zat yang membuat otak bisa bekerja tidak semestinya, bahkan hanya menghadapi kode yang tidak masuk akal, rasanya saya ingin menguasai dunia. Yang mempertajam pikiran saya saat harus mencari bug di antara ribuan baris. Yang menjadi bahan bakar untuk setiap deadline yang mendekat(bukan menyelesaikan tapi membuat lebih tenang dari pikiran pikiran fana).

Arabica adalah pilihan default. Rasanya lebih halus, lebih kompleks, lebih "bisa diterima" oleh lidah yang tidak terlalu terlatih. Robusta saya sentuh sesekali—biasanya kalau tidak ada pilihan lain, atau kalau ada menu baru yang cukup menarik untuk dicoba. Kafeinnya memang lebih tinggi, tapi rasanya sering kali terlalu kasar untuk dinikmati.

Selama bertahun-tahun, hubungan saya dengan kopi berhenti di situ. Pesan, minum, kerja. Tidak lebih.

Tapi belakangan, ada yang berubah

Mungkin karena terlalu sering duduk di kafe. Mungkin karena mulai ngobrol lebih banyak dengan barista-barista yang ternyata punya cerita menarik. Mungkin karena saya sadar bahwa di balik setiap cangkir ada perjalanan panjang—dari kambing Kaldi di Ethiopia hingga petani di lereng gunung Jawa yang mempertahankan kebun warisan kakeknya.
Kopi bukan sekadar kafein. Ada sejarah, ada geografi, ada manusia-manusia dengan pilihan dan filosofi masing-masing.

...

Tidak ada struktur yang rapi. Tidak ada urutan yang harus diikuti. Hanya catatan dari hari-hari di kafe, ditulis di sela-sela pekerjaan, ditemani kopi yang berbeda-beda.

Catatan ini adalah kumpulan obrolan-obrolan itu. Percakapan di counter saat menunggu pesanan. Cerita dari barista tentang kopi yang mereka jual. Sejarah kecil yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Ini monologue!

Short story untuk dunia: Saya dan Kafein

Catatan ini adalah kumpulan obrolan-obrolan. Percakapan di counter saat menunggu pesanan. Cerita dari barista tentang kopi yang mereka jual. Sejarah kecil yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya.
IDR 22.000,00