Yang Bisa Dijangkau
Pagi itu jalanan macet total. Seperti biasa? Jelas Tidak! Ini hanya terjadi di event tertentu, tentu "pagi itu" adalah H-1 Tahun baru!
H-1: Yogyakarta 31 Desember 2025
Saya duduk di balik kemudi, menatap deretan lampu rem mobil di depan yang menyala bergantian seperti instalasi seni yang tidak pernah saya minta. Bukan plat AB, ah R, ah B, ak K. Di sebelah kiri, motor-motor menyerobot dengan gesit (saya membayangkan itu saya ketika ber belalangtempur). Di kanan, sebuah SUV besar memaksa masuk ke jalur saya tanpa sein(tau apa platnya)?
Dan di situlah saya menyadari sesuatu.
Saya bisa marah. Saya bisa membunyikan klakson panjang, mengumpat dalam hati, menaikkan volume musik untuk meredam frustrasi. Atau saya bisa bertanya: dari semua hal yang terjadi di jalan ini, mana yang sebenarnya bisa saya kendalikan?
Ada sebuah framework sederhana yang saya pelajari dari Stephen Covey. Dia menyebutnya Circle of Control, Circle of Influence, dan Circle of Concern. Tiga lingkaran konsentris yang membantu kita memilah di mana sebaiknya energi kita dialokasikan.
Bayangkan lingkaran terkecil di tengah adalah hal-hal yang sepenuhnya dalam kendali kita. Lingkaran kedua adalah hal-hal yang bisa kita pengaruhi, meski tidak sepenuhnya kita tentukan. Dan lingkaran terluar adalah hal-hal yang kita pedulikan, tapi sejujurnya berada di luar jangkauan kita.
Sederhana secara konsep. Tapi ketika saya mencoba menerapkannya dalam konteks menyetir, saya mulai melihat betapa sering saya membuang energi di lingkaran yang salah! Saya sangat terkenal, kesabaranya seperti tisu dibelah tujuh.
Lingkar Kendali(Control)
Mari kita mulai dari yang paling dalam.
Ketika saya menyetir, ada hal-hal yang sepenuhnya menjadi keputusan saya. Bukan keputusan sopir lain. Bukan keputusan penumpang. Bukan keputusan Dinas Perhubungan. Murni keputusan saya.
Kecepatan mobil saya. Kaki saya yang menginjak gas. Kaki saya yang menginjak rem. Tidak ada orang lain yang bisa memaksa saya untuk ngebut atau melambat. Itu pilihan saya.
Jalur yang saya ambil. Mau di kiri, di kanan, atau tetap di tengah. Mau ambil jalan tol atau jalan biasa. Mau lewat rute A atau rute B. Semua itu keputusan yang saya buat sendiri.
Jarak dengan mobil di depan. Ini yang sering saya abaikan. Padahal jarak aman adalah salah satu hal paling sederhana yang sepenuhnya dalam kendali saya. Tidak ada yang memaksa saya untuk menempel terlalu dekat.
Kondisi mobil sebelum berangkat. Apakah ban sudah dicek? Bensin cukup? Rem berfungsi? Lampu menyala? Ini semua tanggung jawab saya. Kalau saya malas mengecek dan kemudian mogok di tengah jalan, saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa.
Waktu keberangkatan. Ini yang paling sering saya remehkan. Saya tahu jalanan macet jam 7 pagi. Tapi saya tetap berangkat jam 7 pagi, lalu mengeluh soal macet. Padahal berangkat jam 6 pagi adalah pilihan yang selalu tersedia.
Dan yang paling penting: reaksi saya terhadap situasi di jalan.
Ketika ada mobil yang menyerobot, saya tidak bisa mengontrol perilaku sopir itu. Tapi saya bisa mengontrol apakah saya akan membalas dengan klakson panjang, mengejar untuk balas dendam, atau cukup mengangkat alis dan melanjutkan perjalanan.
Reaksi adalah wilayah kendali saya. Dan di situlah kebebasan sejati berada.
Lingkar Pengaruh (Influence)
Sekarang kita bergerak ke lingkaran kedua.
Ada hal-hal yang tidak sepenuhnya saya kendalikan, tapi masih bisa saya pengaruhi. Hasilnya tidak dijamin. Tapi tindakan saya meningkatkan probabilitas outcome yang lebih baik.
Penumpang di mobil saya.
Minggu lalu, saya mengantar teman yang tidak berhenti bicara. Cerita demi cerita, pertanyaan demi pertanyaan. Di satu titik, saya merasa konsentrasi saya terganggu.
Saya tidak bisa memaksa dia untuk diam. Itu di luar kendali saya. Tapi saya bisa berkata dengan sopan: "Maaf, boleh kita lanjutkan ceritanya nanti? Jalanan lagi tricky, saya butuh fokus sebentar."
Apakah dia pasti akan diam? Tidak ada jaminan. Tapi dengan komunikasi yang tepat, kemungkinan besar dia akan mengerti.
Saya juga tidak bisa memaksa penumpang untuk pakai seatbelt. Tapi saya bisa mengingatkan. Saya bisa menjelaskan alasannya. Saya bisa bahkan tidak menjalankan mobil sampai semua orang terpasang seatbelt-nya. Itu adalah pengaruh yang saya punya.
Mobil-mobil lain di sekitar saya.
Ini lebih tricky. Saya jelas tidak bisa mengontrol sopir lain. Tapi ada cara-cara tidak langsung untuk mempengaruhi situasi.
Ketika saya mau pindah jalur, saya bisa memberi sinyal yang jelas dan cukup awal. Apakah mobil di belakang pasti akan memberi ruang? Tidak. Tapi sinyal yang jelas meningkatkan kemungkinan itu terjadi.
Ketika ada mobil yang agresif di belakang saya, saya bisa memilih untuk tidak membalas. Saya bisa memberi jalan, membiarkan dia lewat, dan melanjutkan perjalanan dengan tenang. Dengan tidak bereaksi agresif, saya tidak memperburuk situasi.
Lingkar Kepedulian (Concern)
Dan sekarang kita sampai di lingkaran terluar. Lingkaran yang paling berbahaya kalau kita tidak hati-hati.
Kemacetan.
Saya peduli dengan kemacetan. Siapa yang tidak? Tapi berapa banyak energi yang saya habiskan untuk mengeluh tentang macet? Berapa banyak umpatan yang saya lontarkan ke udara, seolah-olah jalanan akan tiba-tiba lengang karena saya marah?
Kemacetan adalah hasil dari ribuan keputusan individual yang dibuat oleh ribuan orang. Ditambah infrastruktur yang tidak memadai, kebijakan transportasi yang belum optimal, dan pertumbuhan kota yang tidak terkendali. Saya tidak bisa mengubah semua itu dengan duduk di dalam mobil sambil mengumpat.
Perilaku sopir lain.
Ada sopir yang tidak pakai sein. Ada yang menyerobot dari bahu jalan. Ada yang berhenti mendadak tanpa alasan jelas. Ada yang main HP sambil nyetir.
Saya bisa kesal. Saya bisa frustasi. Saya bisa merasa bahwa dunia ini tidak adil dan semua orang di jalan adalah idiot kecuali saya.
Tapi apakah kekesalan saya mengubah perilaku mereka? Tidak. Mereka bahkan tidak tahu saya kesal. Mereka sudah melaju entah ke mana, sementara saya masih di sini dengan tekanan darah yang naik.
Cuaca.
Hujan deras turun, jalanan licin, jarak pandang terbatas. Saya bisa mengutuk cuaca sepanjang perjalanan, atau saya bisa menerima bahwa hujan adalah sesuatu yang terjadi, dan fokus pada apa yang bisa saya lakukan: menyalakan lampu, mengurangi kecepatan, menambah jarak.
Bagaimana kalo kita coba perspektif Lain: Ketika Jadi Penumpang! Menarik?
Kadang saya duduk di kursi penumpang. Entah itu di mobil teman, taksi online, atau kendaraan keluarga. Dan di posisi ini, tiga lingkaran itu bergeser. Yang tadinya dalam kendali saya, sekarang berpindah ke tangan orang lain.
Lingkar Kendali sebagai penumpang:
Sangat kecil. Saya tidak memegang setir. Saya tidak menginjak gas atau rem. Saya tidak memilih jalur. Keputusan-keputusan itu sekarang ada di tangan sopir.
Yang tersisa dalam kendali saya adalah: apakah saya pakai seatbelt, bagaimana saya duduk, apa yang saya lakukan selama perjalanan, dan yang paling penting, bagaimana saya bersikap terhadap sopir.
Lingkar Pengaruh sebagai penumpang:
Di sinilah ruang gerak saya. Saya tidak bisa mengambil alih kemudi, tapi saya bisa memberi input.
Kalau saya melihat ada bahaya di depan yang mungkin tidak disadari sopir, saya bisa mengingatkan: "Hati-hati, ada motor dari kiri." Kalau saya merasa sopir terlalu cepat, saya bisa bilang: "Mas, bisa agak pelan sedikit? Saya agak nervous."
Tapi di sini ada batas yang penting: saya tidak boleh mendistraksi sopir.
Mengingatkan itu berbeda dengan mengomando. Memberi input itu berbeda dengan mengambil alih. Kalau saya terus-menerus berkomentar, terus-menerus mengarahkan, terus-menerus bereaksi berlebihan terhadap setiap situasi di jalan, saya justru menjadi bahaya. Perhatian sopir terpecah. Konsentrasinya terganggu. Yang tadinya ingin membantu, malah memperburuk keadaan.
Penumpang yang baik tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Tahu kapan input-nya berguna dan kapan justru mengganggu. Tahu bahwa pada akhirnya, keputusan ada di tangan sopir, dan tugas penumpang adalah mempercayai orang yang memegang kendali.
Lingkar Kepedulian sebagai penumpang:
Sama seperti ketika menyetir, ada hal-hal yang saya pedulikan tapi tidak bisa saya ubah. Kemacetan tetap di luar kendali. Perilaku pengendara lain tetap bukan urusan saya. Cuaca tetap tidak bisa saya atur.
Bedanya, sekarang saya punya satu tambahan di lingkaran kepedulian: cara sopir mengemudi.
Ini sensitif. Saya mungkin tidak setuju dengan gaya menyetir sopir. Mungkin menurut saya terlalu agresif, atau terlalu lambat, atau terlalu sering ganti jalur. Tapi selama tidak ada bahaya nyata, itu adalah gaya dia. Itu adalah keputusan dia. Saya yang memilih naik ke mobilnya, dan dengan itu saya menyerahkan sebagian kendali kepadanya.
Kalau saya tidak nyaman dengan cara seseorang menyetir, saya punya pilihan: sampaikan dengan sopan, atau lain kali pilih tidak ikut. Tapi yang tidak produktif adalah duduk di kursi penumpang sambil terus-menerus mengkritik setiap keputusan sopir. Itu bukan pengaruh. Itu distraksi.
Pelajaran dari Dua Prespektif
Ada kebijaksanaan yang muncul ketika kita memahami kedua perspektif ini.
Sebagai sopir, saya belajar bahwa tidak semua input dari penumpang perlu diikuti. Ada saatnya penumpang melihat sesuatu yang saya lewatkan, dan saya perlu mendengar. Tapi ada juga saatnya penumpang bereaksi berlebihan karena mereka tidak punya informasi yang sama dengan saya. Keputusan akhir tetap di tangan saya, dan saya yang bertanggung jawab.
Sebagai penumpang, saya belajar untuk melepaskan ilusi kendali. Saya tidak memegang setir, dan itu tidak apa-apa. Tugas saya adalah memberikan input yang berguna ketika diperlukan, lalu mempercayai sopir untuk membuat keputusan terbaik. Kalau saya tidak bisa mempercayai sopir, mungkin saya seharusnya tidak naik ke mobilnya sejak awal.
Dan yang paling penting: posisi tidak mengubah prinsip.
Di kursi manapun saya duduk, framework tiga lingkaran tetap berlaku. Yang berubah hanya isi dari masing-masing lingkaran. Lingkaran kendali sopir lebih besar dari penumpang. Tapi baik sopir maupun penumpang sama-sama punya pilihan tentang bagaimana mereka bersikap, bagaimana mereka bereaksi, dan di mana mereka meletakkan energi mereka.
Sekarang, coba kita pindahkan analogi ini ke tempat lain
Buka Threads. Scroll sebentar. Dalam hitungan detik, Anda sudah menemukan: orang yang berdebat soal politik, curhatan yang tidak Anda minta, hot take yang bikin darah naik, dan entah berapa banyak konten yang membuat Anda bertanya kenapa algoritma berpikir Anda perlu melihat ini.
Timeline di Threads tidak berbeda jauh dari jalanan di jam sibuk. Penuh dengan orang-orang yang punya agenda masing-masing, bergerak dengan kecepatan berbeda, dan sebagian besar tidak peduli apakah keberadaan mereka mengganggu Anda atau tidak.
Dan sama seperti di jalanan, kita sering lupa bertanya: dari semua ini, mana yang sebenarnya bisa saya kendalikan?
Lingkar Kendali di Threads:
Yang sepenuhnya dalam kendali saya adalah akun saya sendiri. Apa yang saya post. Kapan saya post. Bagaimana saya merespons komentar, atau memilih untuk tidak merespons sama sekali. Siapa yang saya follow. Dan yang paling powerful: tombol "Not Interested" dan "Block".
Ketika ada konten yang tidak relevan muncul di timeline, saya punya pilihan. Saya bisa scroll sambil kesal, membiarkan algoritma berpikir bahwa saya engage dengan konten itu. Atau saya bisa tekan "Not Interested" dan mengajarkan algoritma bahwa ini bukan yang saya cari.
Ketika ada akun yang toxic, yang kerjanya cuma memancing emosi dan menyebarkan negativitas, saya punya pilihan yang lebih tegas: Block. Tanpa drama. Tanpa penjelasan. Tanpa perdebatan panjang yang menguras energi.
Block bukan kekalahan. Block adalah keputusan sadar untuk menjaga lingkaran kendali tetap bersih.
Lingkar Pengaruh di Threads:
Saya tidak bisa mengontrol siapa yang melihat konten saya. Tapi saya bisa mempengaruhi jangkauan dengan konsistensi, dengan kualitas, dengan timing yang tepat.
Saya tidak bisa memaksa orang untuk setuju dengan pendapat saya. Tapi saya bisa menyampaikan dengan cara yang membuat mereka berpikir, bukan defensif.
Saya tidak bisa mengontrol komentar yang masuk. Tapi saya bisa memilih mana yang saya balas, mana yang saya abaikan, dan mana yang perlu dihapus karena tidak menambah nilai apapun.
Sama seperti penumpang yang memberi input ke sopir: ada saatnya komentar saya di post orang lain berguna, ada saatnya lebih baik saya diam. Tidak semua hal perlu dikomentari. Tidak semua perdebatan perlu dimenangkan.
Lingkar Kepedulian di Threads:
Algoritma. Kebijakan platform. Tren yang sedang viral. Drama antar kreator. Perubahan fitur yang tiba-tiba. Semua itu di luar kendali saya.
Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam mengeluhkan algoritma yang tidak adil. Atau saya bisa menerima bahwa algoritma adalah cuaca digital yang tidak bisa saya ubah, dan fokus pada apa yang bisa saya lakukan: membuat konten yang saya yakini nilainya, untuk orang-orang yang memang ingin melihatnya.
Mengapa Memahami Ini Penting
Energi kita terbatas.
Setiap menit yang saya habiskan untuk marah-marah soal algoritma Threads adalah menit yang tidak saya gunakan untuk membuat konten yang bermakna. Setiap kalori mental yang saya bakar untuk stalking kompetitor adalah kalori yang tidak tersedia untuk melayani customer saya sendiri.
Dan lebih dari itu: fokus yang salah menciptakan ilusi ketidakberdayaan.
Ketika saya terus-menerus memikirkan hal-hal yang tidak bisa saya ubah, saya mulai merasa bahwa hidup ini di luar kendali. Bahwa kesuksesan ditentukan oleh algoritma, oleh keberuntungan, oleh faktor eksternal yang tidak bisa saya sentuh. Padahal tidak. Ada banyak hal yang sepenuhnya dalam kendali saya. Saya hanya tidak melihatnya karena terlalu sibuk meratapi hal-hal yang memang tidak pernah bisa saya kendalikan.
Jadi!..
Setiap kali muncul konten yang bikin mood turun tanpa alasan produktif, saya tekan "Not Interested". Tanpa pikir panjang. Tanpa merasa bersalah. Itu adalah cara saya mengajarkan algoritma tentang apa yang saya inginkan di timeline saya.
Setiap kali menemukan akun yang energinya toxic, yang kontribusinya hanya membuat hari saya lebih buruk, saya Block. Tanpa drama. Tanpa pengumuman. Tanpa perdebatan.
Ini bukan tentang menciptakan echo chamber. Saya tetap follow akun-akun yang punya perspektif berbeda, yang menantang cara berpikir saya, yang membuat saya belajar hal baru. Tapi ada perbedaan antara "berbeda pendapat" dan "toxic". Yang pertama memperkaya. Yang kedua hanya menguras.
Kurasi adalah tindakan yang sepenuhnya dalam lingkaran kendali saya. Dan saya memilih untuk menggunakannya dengan sengaja.
Kembali ke Kursi Masing-Masing
Jadi, kembali ke pagi itu. Jalanan macet. Motor-motor menyerobot. SUV memaksa masuk tanpa sein.
Saya tarik napas. Saya ingatkan diri sendiri tentang tiga lingkaran itu.
Macet? Lingkaran kepedulian. Saya tidak bisa mengubahnya sekarang. Move on.
Perilaku sopir lain? Sebagian besar di lingkaran kepedulian juga. Saya bisa memberi sinyal yang jelas (lingkaran pengaruh), tapi keputusan mereka bukan urusan saya.
Yang tersisa adalah lingkaran kendali. Jarak aman dengan mobil depan. Kecepatan yang wajar. Kewaspadaan terhadap sekitar. Dan yang paling penting: ketenangan pikiran saya.
Sama seperti di Threads. Sama seperti ketika saya jadi penumpang dan harus melepaskan setir ke tangan orang lain.
Di kursi manapun kita duduk, ada hal yang bisa kita kendalikan, ada yang bisa kita pengaruhi, dan ada yang hanya bisa kita terima. Kebijaksanaan terletak pada kemampuan membedakan ketiganya, dan memilih dengan sadar di mana energi kita dialokasikan.
Kursi pengemudi atau kursi penumpang, keduanya punya tempatnya masing-masing.
Yang penting adalah mengenali kursi mana yang sedang kita duduki, dan bertindak sesuai dengan apa yang memang bisa kita lakukan dari posisi itu.
Tulisan ini terinspirasi dari konsep Circle of Control, Circle of Influence, dan Circle of Concern yang dipopulerkan oleh Stephen Covey dalam bukunya "The 7 Habits of Highly Effective People."