Bagaimana mengadopsi informasi external
"Iya" dan "Tidak"
Kehidupan adalah aliran. Bukan destinasi, bukan serangkaian keputusan biner yang harus dijawab dengan "iya" atau "tidak".
Ketika kita terlalu cepat mengatakan "iya" atau "tidak" terhadap sesuatu, kita sedang membangun tembok. Tembok itu bernama mental block. Di balik tembok itu, tersembunyi kemungkinan-kemungkinan yang belum sempat kita eksplorasi, pemahaman yang belum matang, dan koneksi-koneksi yang belum terbentuk.
Saya memilih untuk tidak membangun tembok itu.
Observer
Ada perbedaan fundamental antara menerima dan menyetujui.
Menerima berarti membiarkan informasi masuk, mengalir, dan mengendap. Menyetujui berarti sudah mengambil posisi. Ketika kita menerima tanpa langsung menghakimi, kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk mengumpulkan lebih banyak data, melihat lebih banyak sudut, dan memahami konteks yang lebih luas.
Perbedaannya bukan di kecerdasan. Perbedaannya di keterbukaan.
Connecting the Dots
Steve Jobs pernah berbicara tentang ini. Kita tidak bisa menghubungkan titik-titik ke depan. Kita hanya bisa melihat koneksinya ketika menoleh ke belakang.
Pengalaman yang tampak tidak relevan hari ini bisa menjadi insight krusial di masa depan. Percakapan random dengan stranger di conference bisa membuka pintu karir lima tahun kemudian. Bug yang menghabiskan seminggu waktu debugging bisa mengajarkan pattern yang menyelamatkan sistem production di project berikutnya.
Tapi koneksi-koneksi itu hanya mungkin terjadi kalau kita tidak menutup pintunya terlalu cepat.
Setiap kali kita mengatakan "tidak" secara mutlak, kita memutus satu kemungkinan koneksi. Setiap kali kita mengatakan "iya" tanpa pertimbangan, kita mungkin terjebak dalam jalur yang menyempit.
Zona netral, tempat kita menahan judgment, adalah tempat di mana kemungkinan tetap hidup.
Proses untuk Memahami
Kalau saya harus mendefinisikan belajar, definisinya sederhana: proses dari tidak memahami ke memahami.
Tapi ada layer kedua yang lebih penting: tujuan belajar adalah bisa menempatkan sesuatu sesuai tempat dan kapasitasnya. Bukan sekadar tahu. Bukan sekadar hafal. Tapi memahami di mana sesuatu itu fit dalam keseluruhan sistem pengetahuan kita.
Dan di sinilah paradoks yang menarik muncul.
Batasan belajar adalah kesimpulan.
Ketika kita memberikan conclusion, sadar atau tidak, kita menghentikan proses belajar. Kita menutup file itu, menyimpannya di folder "sudah selesai", dan jarang membukanya lagi.
Kadang conclusion memang diperlukan. Kita tidak bisa hidup dalam ketidakpastian permanen. Tapi saya cenderung memperlakukan conclusion sebagai checkpoint, bukan endpoint. Kesimpulan hari ini adalah titik awal eksplorasi besok.
Monologue
Saya punya kebiasaan ber-monolog dengan diri sendiri. Bukan tanda kegilaan. Ini adalah metodologi.
Ketika menghadapi sesuatu yang tidak bisa, dialog internal saya seperti ini:
"Kenapa ini tidak bisa?"
"Kenapa bisa tidak bisa?"
"Apa yang belum saya pahami?"
"Informasi apa yang masih kurang?"
Proses ini tidak pernah berhenti di satu jawaban. Setiap jawaban memunculkan pertanyaan baru. Setiap pertanyaan baru membuka ruang eksplorasi baru.
Dengan metodologi ini, tanpa terburu-buru memberikan conclusion, dan dengan terbuka menerima apapun informasinya, ketika menghadapi problem, kita tinggal connecting the dots. Menyambungkan berbagai kemungkinan untuk mengkerucutkan sesuatu yang abstrak menjadi konkret.
Ini bukan hanya soal fast learning. Ini soal deep understanding. Ini soal mengambil keputusan dengan data yang lebih lengkap.
Komunikasi: Alat untuk Memahami dan Dipahami
Semua proses di atas memerlukan satu keterampilan fundamental: komunikasi.
Komunikasi bukan sekadar menyampaikan pesan. Komunikasi adalah alat untuk:
Breakdown konteks — Mengurai sesuatu yang kompleks menjadi unit-unit yang bisa diolah
Menyamakan persepsi — Memastikan semua pihak berjalan di jalan yang sama
Mengumpulkan informasi — Mendapatkan data yang diperlukan untuk pemahaman
Jangan berbicara dengan jargon yang membingungkan. Tujuan komunikasi adalah dipahami, bukan terlihat pintar.
Prinsip Komunikasi dengan Client
Ada beberapa hal yang saya pegang erat dalam komunikasi profesional:
Ulangi pemahaman untuk validasi. Setelah mendengar brief dari client, ulangi dengan kata-kata sendiri. "Jadi kalau saya pahami, yang dibutuhkan adalah X, dengan constraint Y, dan deadline Z. Betul?" Ini menghindari miscommunication yang bisa menjadi masalah besar di kemudian hari.
Kumpulkan informasi di awal, bukan bertahap. Client tidak ingin di-chat setiap hari dengan pertanyaan-pertanyaan kecil. Itu memberi kesan bahwa kita tidak memahami apa yang sedang dikerjakan. Investasikan waktu di awal untuk memahami requirement secara komprehensif.
Pahami cukup dalam untuk mengambil keputusan sendiri. Ketika blocker muncul di tengah pengerjaan, dan kita sudah memahami konteks dengan baik, kita bisa mengambil keputusan tanpa harus bolak-balik konfirmasi. Ini yang membedakan profesional dari amateur.
Penutup: Mengapa Saya Menulis Ini
Mungkin tulisan ini terlalu naratif. Terlalu filosofis untuk guide praktis.
Tapi saya ingin mengutarakan ini karena inilah fondasi dari semua ide yang saya kembangkan. Cara berpikir ini membentuk bagaimana saya mendekati problem, bagaimana saya belajar, dan bagaimana saya berinteraksi dengan orang lain.
Dengan memahami mengapa saya berpikir seperti ini, mungkin lebih mudah untuk memahami apa yang saya tulis di tempat lain.
Dan satu hal lagi: saya tidak seserius yang tulisan ini kesankan. Saya humoris kok.
"Belajar adalah proses memahami sesuatu yang belum dipahami, hingga paham, lalu mencoba memahami hal lain yang belum dipahami."