Penundaan dan kesibukan maha Dahsyat!
Tinggal sedikit. Ah, nanti saja. Tiduran sebentar dulu.
Sebentar itu berubah jadi semalam penuh. Pagi datang tanpa izin.
Oke, nanti saja. Waktu istirahat kantor masih ada. Jam 12 tiba, streaming dulu. Internet kantor lambat? Tidak masalah, ada 4G LTE. Sore datang. Belum ada yang dikerjakan. Pulang kantor: lapar, ngantuk. Tidur lagi.
Pekerjaan memang lebih ringan kalau tidak dikerjakan.
Lalu datang akhir waktu. Ujung deadline. Kondisi di mana kamu tidak bisa lari kemana-mana. Semua pekerjaan yang selama ini kamu tunda tiba-tiba bersatu. Bahu-membahu. Kompak. Mereka punya satu tujuan: menuntut. Menyerang dari segala arah. Tiba-tiba hidupmu terasa seperti kesibukan maha dahsyat yang tidak bisa dihindari.
Mau tidak mau harus diselesaikan.
Di titik itu saya mulai sadar: ini fatamorgana.
Semua terasa banyak karena saya bayangkan banyak. Semua terasa sulit karena saya bayangkan sulit. Ketakutan itu tidak nyata. Proyeksi dari pikiran yang mencari alasan untuk tidak mulai. Dan lucunya, bahkan di saat seperti ini pun, pikiran masih mencari celah untuk melarikan diri. Inilah manusia.
Saya mulai mengerjakan. Pelan-pelan. Satu per satu. Ketakutan berkurang. Ternyata tidak ada monster. Yang ada hanya pekerjaan yang menunggu dikerjakan.
Tapi jangan salah paham. Ini bukan cerita motivasi murahan. Kalau pahit, berapa kali pun dicoba tetap pahit. Tidak ada magic. Yang ada hanya keputusan untuk mulai. Meski tidak ingin. Meski malas. Meski semua sel tubuh menolak.
Ya, akan saya kerjakan.
Dan yang menarik: saya masih bisa mengendalikan diri. Saya tahu di mana titik harus berbelok. Semoga. Atau mungkin ini juga fatamorgana.
Tulisan ini di tulis di 2017 - ketika saya masih yakin akan coding selamanya!