Sudut Pandang Kepemilikan
Bagaimana kamu melihat sesuatu itu milik seseorang? Apakah sesuatu harus ada pemiliknya? Bagaimana cara menjadikan sesuatu menjadi milikmu?
Bayangkan ada sebuah meja. Yang sering duduk di meja itu bernama Kotaro. Apakah meja itu milik Kotaro?
Perhatikan: saya hanya bilang "sering duduk di meja itu". Tidak ada pembelian. Tidak ada surat kepemilikan. Tidak ada kesepakatan. Hanya kebiasaan. Hanya frekuensi. Hanya hadir lebih sering dari yang lain.
Kalau hanya dengan "sering duduk" sudah cukup untuk mengklaim kepemilikan, ya, kamu tahu apa yang akan saya lakukan.
Lalu bagaimana kalau ada benda yang tiba-tiba muncul di meja itu? Apakah benda itu milik Kotaro? Kenapa? Karena benda itu ada di mejanya? Tapi kita bahkan belum sepakat meja itu milik Kotaro. Kita hanya sepakat dia sering duduk di sana.
Kepemilikan ternyata bukan soal kebenaran. Kepemilikan adalah soal narasi yang diterima. Soal asumsi yang tidak pernah dipertanyakan. Soal kebiasaan yang lama-lama dianggap hak.
Kalau memang begitu cara kerjanya, ya, kamu tahu apa yang akan saya lakukan! atau orang lain lakukan!
Lalu bagaimana cara memiliki sesuatu dengan benar? Bagaimana membuktikan kepemilikan yang sah? Dan kalau sesuatu tidak ada pemiliknya, apakah siapa saja boleh mengklaimnya?
Saya sedang memikirkannya.
Kemungkinan saya sudah tahu jawabannya.
Baiklah. Kita akhiri saja. Ada kegiatan yang tertunda karena ini.
Coba ambil satu barang, apapun! Apakah kamu merasa sesuatu? Apakah terasa milikmu sekarang?!
---
Tulisan ini bukan tentang meja. Ini tentang bagaimana klaim dibangun dari udara kosong. Dan itu berbahaya!
---
Tulisan ini ditulis pertengahan 2017 - Kotaro