Prolog: Mengapa Saya Menulis Ini?
Saya tidak ingat kapan tepatnya saya mulai tertarik dengan komputer.
Yang saya ingat adalah perasaannya: duduk di lab komputer SMP, menatap layar monitor tabung yang berkedip, dan merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Seperti menemukan pintu ke dunia lain — Isekai.
Waktu itu saya tidak paham apa itu "pemrograman." Yang saya tahu: kalau saya klik ini, sesuatu terjadi. Kalau saya ketik itu, layar berubah. Ada sebab-akibat yang bisa saya kontrol — berbeda dengan dunia di luar lab yang terasa kacau dan tidak bisa diprediksi.
Bukan karena saya paham apa itu hacker. Bukan karena saya punya agenda jahat. Saya hanya melihat di film-film: orang yang bisa mengendalikan komputer bisa mengendalikan segalanya. Bisa masuk ke sistem bank. Bisa mendapatkan apa pun yang dia mau.
Logika anak SMP yang naif. Tapi jujur.
Bertahun-tahun kemudian, saya benar-benar jadi orang yang bekerja dengan komputer setiap hari. Bukan hacker yang membobol bank — tapi Software Engineer yang membangun sistem, memperbaiki bug, dan menghadiri meeting yang sepertinya tidak pernah habis begitu terus dan menerus tak terasa 10 tahun sudah.
Realitanya jauh dari fantasi saya dulu kala.
Tidak ada adegan dramatis di depan layar hitam dengan tulisan hijau berjalan. Yang ada adalah debugging selama 3 hari untuk masalah yang ternyata hanya typo satu karakter. Yang ada adalah sprint planning, code review, dan deadline yang selalu terasa terlalu dekat.
Tapi ada satu hal yang tidak berubah: rasa penasaran itu.
Sampai sekarang, setiap kali saya berhasil membuat sesuatu bekerja — entah itu fitur sederhana atau sistem yang kompleks — ada perasaan yang sama seperti dulu. Sesuatu yang sulit dijelaskan. Isekai
Semakin lama saya bekerja di industri ini, semakin banyak pertanyaan yang muncul. Semakin saya paham teknologi, semakin saya sadar betapa banyak yang tidak saya pahami — bukan tentang teknologi, tapi tentang implikasinya.
Kode yang saya tulis hari ini, akan dipakai untuk apa besok? Sistem yang saya bangun, apakah membuat hidup orang lebih baik atau justru lebih rumit? Industri yang saya tekuni, sedang bergerak ke arah mana?
Ada gelombang besar yang sedang terjadi. AI, automation, gig economy, remote work — semua ini bukan lagi prediksi masa depan. Ini sudah terjadi. Sekarang!.
Dan saya merasa seperti tiba-tiba sudah di tengah laut.
Pokoknya tiba-tiba saya sudah di tengah laut.
Tidak ingat kapan mulai berenang. Tidak tahu persis bagaimana bisa sampai di sini. Yang saya tahu: daratan sudah tidak terlihat, dan saya harus terus bergerak.
Mau mengeluh pun percuma. Air tetap dingin. Ombak tetap datang.
Yang bisa saya lakukan adalah belajar membaca arah angin. Menghemat energi. Mencari tahu mana yang sinyal, mana yang noise. Dan sesekali mengangkat kepala untuk memastikan saya masih bergerak ke arah yang masuk akal.
...