Chapter 3: Kintamani
Langit sudah kelabu sejak pagi.
Desember memang begini. Udara lembap, awan menggantung rendah, dan hujan bisa datang kapan saja tanpa peringatan. Tapi pagi ini saya bangun tanpa alarm, tanpa notifikasi Slack yang mendesak, tanpa deadline yang mengintai. Hari libur yang benar-benar libur, sesuatu yang makin jarang.
Rencana sederhana: kafe, buku, dan menunggu hujan.
Ada tempat yang sudah lama ingin kukunjungi. Seorang teman menyebutnya beberapa minggu lalu. "Kopinya enak," katanya, "dan suasananya asik. Cocok buat kerja atau sekadar duduk lama." Saya menyimpan lokasinya di Google Maps, menunggu waktu yang tepat.
Hari ini sepertinya tepat.
Saya berhenti di warung makan sebelum sampai. Ini adalah trik rahasia saya, belum pernah saya beberakan kemanapu. Anda adalah orang pertama yang akan saya beri tahu tips ini! Makan lah anda sebelum ke kafe, karena makanan di kafe itu mahal banget.
Saya duduk di bangku plastik depan warung, sarapan dan gorengan tentu saja. Angin bertiup, membawa bau tanah basah meski hujan belum turun. Di kejauhan, awan semakin gelap. Mungkin setengah jam lagi. Mungkin lebih cepat.
Gorengan terakhir habis. Saya melipat kertas pembungkus, membuangnya ke tempat sampah, lalu berjalan ke kafe yang tinggal dua puluh meter di depan.
Bangunannya tidak besar. Dua lantai, dinding bata ekspos, tanaman merambat di sisi kiri. Papan kayunya sederhana: Ruang Kopi. Tidak ada tagline, tidak ada klaim "specialty" atau "artisan". Hanya nama.
Pintu kaca terbuka. Aroma kopi langsung menyambut, lebih subtle dari kafe-kafe lain yang pernah kukunjungi. Tidak agresif, tidak memaksa. Seperti undangan, bukan deklarasi.
Ruangan dalam lebih luas dari yang kubayangkan. Langit-langit tinggi, jendela besar menghadap jalan, dan yang paling menarik, rak buku di sepanjang dinding kiri. Bukan dekorasi. Buku-buku itu terlihat pernah dibaca, punggungnya sudah tidak lagi kaku.
Meja-meja tersebar dengan jarak yang cukup. Beberapa sudah terisi—seorang perempuan dengan laptop, dua orang yang sepertinya sedang meeting santai, dan lelaki tua di pojok yang membaca koran. Suara yang terdengar hanya dentingan pelan dari counter dan musik jazz yang volumenya pas: ada tapi tidak mengganggu. Wajib!
Saya suka tempat ini.
Berjalan ke counter, mata saya menyapu papan menu. Tulisan kapur, seperti biasa(tidak ada tana bintang- saya teringat trik nya MR Crab). Tapi yang menarik perhatian bukan daftar kopi yang panjang, melainkan satu nama di bagian bawah, ditulis dengan warna berbeda.
Kintamani – Bali
Kintamani. Nama yang sering kudengar tapi belum pernah kucoba. Setiap kali ke kafe yang menyediakannya, selalu ada alasan untuk memilih yang lain. Terlalu light, kata saya pada diri sendiri. Tidak cukup bold untuk menemani kerja.
Tapi hari ini saya tidak kerja. Dan rasa penasaran yang sudah tertunda berbulan-bulan akhirnya menemukan momennya - lebay.
"Kintamani-nya masih ada?"
Barista di balik counter mendongak. Perempuan, mungkin seusia saya (27 tahun) atau sedikit lebih muda, rambut pendek sebahu dengan anting kecil . Senyumnya ramah tapi tidak berlebihan.
"Masih. Mau coba?"
"Iya. Long black."
Dia mengangguk, lalu berbalik ke grinder. Tapi sebelum mulai menggiling, dia berhenti.
"Pertama kali coba Kintamani?"
"Iya." Saya tidak berbohong. "Sering dengar, belum pernah minum."
"Ah." Dia tersenyum lagi, kali ini lebih lebar. "Kalau gitu, sebentar."
Dia meninggalkan grinder, berjalan ke rak di belakang, dan mengambil sesuatu. Kantong kopi dengan label minimalis, hanya tulisan "Kintamani" dan gambar gunung yang disederhanakan - tidak ada gambar binatang haram sepertinya aman.
"Tau Kintamani dapat Geographical Indication?"
Saya menaikan alis.
"Satu-satunya kopi Indonesia yang dapat sertifikasi itu. Seperti Champagne atau Parmigiano-Reggiano. Nggak boleh sembarang kopi disebut Kintamani, harus dari area tertentu, proses tertentu, standar tertentu."
Di luar, angin bertiup lebih kencang. Dedaunan di tanaman merambat bergoyang. Hujan semakin dekat.
"Proses tertentu maksudnya?"
"Wet process. Full washed." Dia membuka kantong, membiarkan saya mencium aromanya - bau farfumnya wangi tapi tidak dominan. Kopinya, om, bukan parfum saya. Eh .., saya jawab saya cium bau kopinya, dengan menekan bungkusnya. Berbeda dari Mandheling yang earthy dan berat. Ini lebih ringan, citrus, sedikit floral, seperti teh yang dicampur jeruk. "Tapi yang bikin unik bukan cuma prosesnya. Cara tanamnya juga beda."
"Beda gimana?"
"Subak."
Kata itu familiar. Sistem irigasi Bali yang sudah ada ratusan tahun. UNESCO heritage.
"Kopi di Kintamani ditanam dalam sistem subak," lanjutnya sambil mulai menggiling biji. Suara mesin mengisi jeda sejenak. "Jadi bukan monokultur. Kopi tumbuh bareng tanaman lain, jeruk, cengkeh, pisang, sayuran. Petani di sana percaya kalau tanaman hidup berdampingan, hasilnya lebih seimbang."
"Dan rasanya beda karena itu?"
"Sebagian orang percaya begitu. Ada yang bilang notes citrus di Kintamani datang dari pohon jeruk yang tumbuh di sampingnya. Belum terbukti secara ilmiah, tapi..." Dia mengangkat bahu. "Kopi itu misteri. Kadang penjelasan ilmiah nggak cukup."
Mesin espresso mendesis. Air panas bertemu bubuk kopi. Aroma yang tadi subtle dari kantong sekarang menguat, jeruk yang lebih jelas, dengan dasar manis yang lembut.
Di luar, tetes pertama hujan jatuh ke jendela. "Eh kumbahan ku lali tak pulungi".
"Anda dari mana?" tanyanya sambil menuang air panas ke cangkir.
"Sini. Maksudnya, tinggal di sini."
"Bukan, maksud saya " Dia tertawa kecil. "Kerjanya apa? Biasanya yang datang pagi-pagi di hari kerja itu freelancer atau orang yang lagi bolos."
Matane di kiro bolos kerjo aku.
"Freelancer. Tapi hari ini libur."
"Oh, jarang dong."
"Sangat."
Cangkir disodorkan. Warna kopinya lebih terang dari yang biasa saya minum, amber kecokelatan, bukan hitam pekat. Saya membawanya ke meja dekat jendela, tempat yang memberi saya pemandangan hujan yang mulai deras.
Tegukan pertama.
Ringan. Itu kesan pertama yang muncul. Bukan ringan dalam arti kosong, tapi ringan seperti udara pagi di pegunungan, segar, bersih, tidak membebani. Citrus yang tadi tercium di aroma sekarang hadir di lidah, berpadu dengan sesuatu yang seperti madu tapi tidak terlalu manis. Acidity-nya bright tapi tidak menggigit. Body-nya medium, tidak setipis yang kubayangkan.
Ini bukan kopi untuk mengejar deadline. Ini kopi untuk hari seperti ini, hujan di luar jendela, buku di meja, dan waktu yang tidak perlu dikejar.
Saya menyesap lagi, lebih pelan.
Di Bali, petani menanam kopi bersama jeruk dan cengkeh. Bukan karena tidak punya lahan yang cukup, tapi karena mereka percaya keseimbangan. Subak bukan sekadar sistem irigasi, itu filosofi. Air dibagi rata, tanaman hidup berdampingan, hasil panen jadi tanggung jawab bersama.
Berbeda dengan kopi dari tempat lain yang kukenal. Mandheling dengan proses giling basah yang lahir dari adaptasi cuaca. Robusta Temanggung yang bertahan karena keras kepala satu keluarga. Setiap kopi punya cerita tentang tempat dan manusianya.
Kintamani bercerita tentang kebersamaan.
Hujan semakin deras. Suara gemuruhnya meredam musik jazz dari speaker. Pilihlah Kafe yang beratap genteng! Beberapa pengunjung yang tadinya duduk di luar berpindah ke dalam, membawa aroma tanah basah dan tawa kecil karena kehujanan.
Saya membuka buku, membaca paragraf pertama, lalu berhenti. Bosan dan main Hp!
Sambil melihat kembali ke jendela. Ke tetes-tetes air yang mengalir di kaca. Ke orang-orang yang berlari mencari teduh di seberang jalan.
Buku bisa menunggu.
Kopi di tangan saya masih hangat. Dan hujan, sepertinya, tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
Tidak apa-apa. Hari ini memang tidak ada yang perlu dikejar.