Tulisan ini mengikuti perjalanan seorang software engineer yang keluar dari dunia korporat setelah menyadari bahwa rasa kepemilikan terhadap produk yang ia bangun selama bertahun-tahun ternyata halusinasi: ia menginvestasikan energi dan identitas seperti founder, tapi secara struktural tetap karyawan yang bisa dipisahkan dari produknya kapan saja. Narasi dimulai dari percobaan membuka usaha di 2018 yang gagal karena gap eksposur terhadap perdagangan fisik, berlanjut ke fase kembali bekerja di startup yang produknya diakuisisi, hingga akhirnya ia memilih jalur layoff sebagai titik pemisahan definitif, bukan karena dipaksa keluar, tapi karena ia sudah tidak punya alasan untuk tetap tinggal setelah produk yang ia anggap miliknya berpindah tangan.
Kejujuran penulis dalam menampilkan ironi menjadi kekuatan utama: engineer yang bisa merancang arsitektur untuk ribuan pengguna tapi tidak tahu membeli beras grosir di mana, atau karyawan yang lembur seperti founder tapi dibayar seperti karyawan.
Transisi akhirnya terjadi bukan lewat rencana besar, tapi lewat hobi hidroponik yang lahir dari kebosanan pandemi. Penulis menangkap momen pembelajaran yang terjadi sebagai efek samping: menghitung HPP dari meracik nutrisi, memahami supply-demand dari panen yang ludes dalam dua jam, bahkan membangun aplikasi pergudangan lima bulan yang akhirnya kalah dari tabel Notion. Yang berubah bukan skala ambisinya, melainkan definisinya tentang apa artinya "membangun sesuatu": dari arsitektur yang melayani ribuan pengguna anonim, ke sistem kecil yang hasilnya bisa ia pegang sendiri.
Mulai realistis dan fokus ke sesuatu yang ada dalam kendali saja ...
... pada suatu hari
2018 — Saya resign [01]
Bukan karena di-PHK, bukan karena konflik dengan atasan, bukan karena perusahaan bangkrut. Saya resign karena merasa sudah saatnya. Sudah beberapa tahun menjadi software engineer, membangun produk untuk orang lain, berkontribusi untuk ambisi orang lain. Ada titik di mana kontribusi itu mulai terasa seperti sebuah transaksi yang semakin tidak seimbang: saya memberikan waktu, energi, dan kapasitas berpikir terbaik saya, dan
...Artikel Premium
Lanjutkan membaca
Bagian selanjutnya hanya tersedia untuk pembaca yang sudah memiliki akses.